Berita Utama

Edison Tumbang, “Beringin” Goyang

Edison Betaubun, Anggota DPR RI, 2014-2019. /Foto : Rahmawaty Thenu

Perang di internal Golkar Maluku baru dimulai. Friksi juga kian mengemuka. Musyawarah daerah luar biasa di DPD Golkar Maluku mulai ditiup. Saling tuding akibat lepasnya kursi beringin di DPR RI menjadi episentrum masalahnya.

AMBON, SPEKTRUM – Calon kuat legislator Golkar di Senayan, Edison Betaubun tak terpilih lagi, berdasarkan hasil pleno Komisi Pemilihan Umum. Betaubun masih mengajukan masalah ke Mahkamah Konstitusi. Setelah MK putuskan, baru KPUD Maluku tetapkan hasil pemilu 2019.

Meski demikian, kemungkinan tidak terpilihnya lagi Betubun sudah diujung. Betaubun masih menyisahkan masa kerjanya empat bulan lagi di DPR RI. Setelah itu, dia akan ikhlas melepas kursi terakhir jatah Maluku kepada Hendrik Lewerissa dari Partai Gerindra. Gerindra menggeser Golkar diperebutan kursi keempat.

Tumbangnya Golkar, memantik kadernya saling tuding. Friksi mulai ditiup dari DPD Golkar Maluku. Tiga kader beringin yang kini menjabat Bupati Buru, Bupati Seram Bagian Timur, dan Walikota Ambon dituding menjadi biangkeroknya.

Tudingan ini disampaikan Ketua Bapilu DPD Golkar Maluku, Richard Rahkabauw. Serangan dialamatkan kepada Ramli Umasugi, Mukti Keliobas, dan Ricard Louhenapessy, setelah beberapa kader Golkar menyebut Said Assagaff sebagai biang kekalahan.

Kepada Spektrum di ruang kerjanya Selasa, (28/05/2019), Direktur PT.Parameter Konsultindo Maluku, Edison Lapalelo menyampaikan, apa yang terjadi di Golkar, tidak lepas dari pola lama. Strategi mereka, masih mengandalkan para Ketua DPD II.

Menurut dia, cara itu diterapkan pada Pilkada tahun 2018 silam. “Ini cara lama, dan sama sekali Golkar tidak berlajar dan tidak melakukan evaluasi saat kekalahan tahun 2018,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan, penyebab kekalahan Golkar Maluku, lebih banyak disebabkan para caleg dari 11 kabupaten/kota se-Maluku tidak berkerja maksimal.

Menurut dia, evaluasi penting dilakukan di tubuh Golkar. Mestinya, kata dia, evaluasi justeru dilakukan pasca Pilkada Maluku tahun 2018. Saat Said Assagaff kalah dari pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno.

Evaluasi setelah pileg, kata dia, jadi momentum untuk dilakukan Musawarah Luar Biasa  (Musdalub ), bila itu menjadi solusi. Hal yang sama juga bisa dilakukan terhadap kepala daerah yang menjabat Ketua DPD II Golkar di Maluku, bila itu dirasa perlu dilakukan.

Meski demikian, dia mengatakan, kekalahan Golkar tidak sepenuhnya kesalahan Ketua DPD II Golkar yang menjadi kepala daerah. “Tapi evaluasi terhadap hasil kerja mereka, itu penting dilakukan. Bahkan perlu dilakukan sampai pada tingkat kecamatan,” kata dia.

Menurut dia, kekalahan pilkada dan pileg, terjadi karena Golkar tidak berhasil melakukan konsolidasi secara optimal. Ini menyebabkan, tidak terjadi kesamaan pikir dan semangat untuk membangun partai. “Kondisi ini, tidak seperti dulu saat Partai Golkar ini menjadi penguasa di era Orde Lama,” kata dia. (S-04)

 

Tinggalkan Komentar