Selamat Pagi

Gesekan di Internal Golkar Maluku

Yusuf Warhangan

Golkar sebagai partai besar di tanah air. Karirnya gemilang di era orde baru. Namun dalam kancah perpolitikan pasca reformasi hingga tahun 2019, belum ada figur Golkar yang bisa mengulangi kejayaan partai Berlambang Pohon Beringin seperti di era kepemimpinan Soeharto.

Nasib Golkar terpuruk level nasional hingga daerah termasuk di Maluku. Jauh-jauh hari, Ketum Golkar Air Langga enggan partai yang dipimpinnya tergeser dari peringkat kedua dalam Pemilu 2019. Namun kehendak Air Langga harus terurung jua. Sejarah buruk kembali diukir Golkar, setelah kekalahan pada pemilu pemilu 1999, 2009 dan 2014.

Hasil Pileg 2019, partai Golkar harus puas menempati posisi ketiga, setelah Partai Gerindra (urutan kedua), dan rival sejatinya PDI-P yang bertengger di peringkat pertama pemenang pemilu 2019.

Gesekan antar faksi di Golkar pusat hingga di Maluku, dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh kelompok – baik internal maupun eksternal partai, mungkin menjadi jalan memuluskan target jangka pendek masing-masing.

Kekalahan Golkar melanda Partai Golkar di Maluku. Sebelumnya Partai berlambang Pohon Beringin di Pilkada Gubernur tahun 2018 mengusung Said Assagaff – Andreas rentanubun kalah dari Murad Ismail – Barnabas Orno. Belum setahun, momen Pemilu legislatif 2019, Golkar Maluku kembali menelan kekalahan. Satu kursi DPR RI tidak bisa dipertahankan, di mana kursi tersebut diraih oleh partai Nasdem.

Hasl tersebut membuat Golkar Maluku yang kini dibesut Said Assagaff menelan pil pahit. Kalah Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Maluku tahun 2018, seterusnya kalah juga di momentum Pileg 17 April 2019.

Perseteruan pun kini terjadi di internal Partai Golkar Maluku. Kabar sesama kader Beringin, terlibat saling sikut. Problemnya karena kekalahan secara beruntun dialami Partai Golkar di Maluku.

Kabarnya, evaluasi akan dilakukan DPP Golkar terhadap Walikota Ambon Richard Louhenapessy, Bupati Seram Bagian Timur, Mukti Keliobas, dan Bupati Buru, Ramli Umasugi.

Opini mengemuka kekalahan dua kali beruntun Golkar di Maluku hal ini tidak terlepas dari konflik internal (dualisme kepemimpinan) yang pernah melanda tubuh Golkar selama beberapa tahun terakhir. Saat konflik di pusat, proses pembenahan butuh waktu panjang.

Sebagai partai besar dan terhormat awalnya memiliki citra positif di mata publik. Namun belum bisa mempertahankan kejayaan seperti era orde baru.

Untuk merebut simpati masyarakat dan ingin mengulangi kejayaan seperti era orde baru, sudah sepatutnya Golkar berbenah diri lebih jauh. (*)

Tinggalkan Komentar