Selamat Pagi

“Golkar Maluku Memanas”

Dirk Tiwery

Partai Golkar Maluku harus rela kehilangan kursi di DPR RI senayan Jakarta, pada periode 2019-2024. Edison Betaubun (petahana) tidak lolos alias kanvas. Langkah Edison terhenti ke Senayan, karena kalah perolehan suara dari caleg PDIP, Nasdem, PKS dan Partai Gerindra.

Rekapitulasi hasil Pemilu 2019 tingkat provinsi sudah tuntas dilakukan KPUD Provinsi Maluku pada Senin 20 Mei 2019. Perolehan suara Golkar di Maluku khusus untuk caleg DPR RI, kalah dari empat partai di atas.

Kuota empat kursi untuk DPR RI dari daerah pemilihan Maluku dipastikan ditempati Mercy Chriesty Barends dari PDIP. Mercy meraih 88.706 suara, dan suara partai yakni 197.648. Posisi kedua Abdullah Tuasikal dari Partai NasDem dengan 51.827 suara, dan suara partai  118.307.

Rangking ketiga Saadia Uluputy dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dengan 46.011 suara, dan suara partai 97.765. Dan peringkat ke-empat diduduki Hendrik Lewerissa, ketua DPD Partai Gerindra Maluku, dengan 60.482 suara, dan suara partai 94.298.

Merosotnya suara Golkar dalam Pemilu 2019 di Maluku, menyulut dinamika di Partai Golkar Maluku mulai “memanas”. Sesama kader di partai berlambang Pohon Beringin itu, terlibat saling “serang dan menyalahkan” satu sama lain.

Penyebab kekalahan Golkar Maluku, selain para caleg dari 11 kabupaten/kota se-Maluku tidak berkerja maksimal, hal lain karena para ketua DPD (Kabupaten/kota) juga tidak bekerja maksimal. Hal ini kemudian mencuat akan ada evaluasi pasca partai yang dipimpin Said Assagaff (Guebrnur Peridoe 2013-2018) itu, menelan kekalahan di Pemilu 2019.

Di beberapa kabupaten dan kota selain menjadi ketua DPD, ada kader beringin yang menjadi kepala daerah (bupati dan wali kota). Namun mereka tidak bisa memberi jaminan bagi Golkar memenangkan Pemilu 2019 di Maluku. Selain itu, pemicu terjadinya gesekan di internal partai Golkar Maluku saat ini, kabarnya karena Edison Betaubun tumbang (tidak bisa lolos ke Senayan).

Di beberapa kabupaten dan kota di Maluku, Golkar juga mengalami kekalahan. Misalnya, Kabupaten Maluku Tengah, yang sebelumnya menjadi basis partai Golkar, tetapi akhrinya juga kalah dari Partai NasDem di Pemilu 2019, dan sebelumnya kalah di pemilu 2014.

Di Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Timur dan Kabupaten Buru, perolehan suara Golkar pun tidak begitu signifikan. Sehingga Richard Louhenapessy, Mukti keliobas dan Ramli Umasugi akan dievaluasi.

Selain kalah di pemiu 2019, Golkar juga kalah di Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku pada 2018 lalu, Said Assagaff dikalahkan oleh pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno.

Benarkah, kekalahan beruntun yang dialami Golkar di Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, adalah alasan mendasar untuk dilakukannya Musyawarah Luar Biasa  di DPD I Partai Golkar Maluku, ataukah perseteruan ini, sekadar dinamika yang dibuat untuk meraih simpati rakyat? (*)

Tinggalkan Komentar