Hukrim

Kejaksaan “Takluk” Terhadap Tentua-Toisuta?

Dokumentasi Istimewa : Spektrum

AMBON, SPEKTRUM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku diingatkan untuk menangkap dua terpidana tindak pidana korupsi pengadaan gedung dan lahan kantor Cabang PT. Bank Maluku-Maluku Utara di Surabaya, yang sudah masuk daftar pencarian orang atau DPO. Mereka adalah Petro Rudolf Tentua divonis dan Heintje Abraham Toisuta.

“Jangan hanya sekadar menetapkan (DPO) tapi terkesan penciteraan publik. Sebab publik masih mengawal dan bertanya-tanya mengapa terpidana bebas berkeliaran. masa harus takluk terhadap terpidana,” kata Koordinator Paparissa Perjuangan Maluku (PPM) 95Djakarta, Adhy Fadhly Tuhulele, kepada Spektrum, Senin (8/7/2019) di Ambon.

Menurutnya, status dua terpidana itu putusannya telah incrakht. Berikut, asas keadilan sudah benar-benar jauh dari penegakan hukum di negeri ini, khususnya di Maluku. Bahkan, kata dia, bisa dilihat berapa banyak terpidana kasus korupsi yang sekarang bebas berkeliaran, dan mirisnya terjadi saat ini adalah kasus korupsi PT. Bank Maluku-Malut.

Kasus dugaan mark-up pembelian lahan kantor Surabaya, yang mana ada 3 tersangka telah divonis Mahkamah Agung. Tiga tersangka itu, adalah Mantan Dirut Bank Maluku-Maluku Utara, Idris Rolobessy, divonis 10 tahun penjara, Kadiv Renstra & Chroscheeck, Petro Rudolf Tentua divonis 6 tahun penjara, dan Heintje Abraham Toisuta (Rekanan) yang juga divonis 12 tahun penjara.

“Bagaimana bisa kita katakan ada sebuah keadilan, dimana dari tiga terpidana itu, hanya Rolobessy, yang menjalani hukuman, sedangkan Tentua dan Toisuta, tetap berkeliaran di luar tanpa sedikitpun ada langkah konkrit dari pihak Kejati Maluku untuk berupaya mengeksekusi mereka,” kesalnya.

“Rasanya agak sedikit aneh juga, koq bisa mereka bebas yaa, tapi biarlah publik yang akan menilai komitmen dan konsistensi dari penegak hukum dalam hal ini Korps Kejati Maluku yang sering kebobolan atau sengaja dibiarkan bobol,” kata Tuhulele.

Demi penegakan supremasi hukum yang berpulang pada asas keadilan, dia mendesak, Kejati Maluku segera menangkap Tentua dan Toisuta. “Kalau tidak salah Wakajati Maluku pernah mengatakan, alatnya lebih canggih dari yang dimiliki KPK, tapi kok hingga detik ini tidak ditemukan. Jangan ada konspirasi untuk melindungi pihak-pihak tertentulah,” sentilnya.

Menurut Fadhly, berdasarkan informasi yang diperolehnya, dua terpidana ini masih dalam kawasan NKRI, bahkan tidak menutup kemungkinan mereka berdua (Tentua dan Toisita) berada di Kota Ambon ini.

“Berpulang lagi pada komitmen dan keseriusan pihak Kejaksaan, kalau memang kesulitan atau tidak mampu, jangan sungkan meminta bantuan institusi lain seperti Kepolisian maupun KPK. Sinergitas seperti itulah yang dibutuhkan demi memberantas para koruptor,” tegasnya.

Untuk itu, kata dia, sebaiknya Kejati Maluku lebih serius, dan jangan hanya omong doank, namun harus menunjukan ke publik bahwa Kejati serius dan tidak ada sedikitpun niat melindungi pihak pihak tertentu.

Dia mengatakan, lolosnya Tentua, Toisuta maupun Rumatoras, memperburuk citra penegakan hukum di Maluku, bahkan menurunkan kepercayaan publik terhadap Kejati Maluku.

“Kami tidak melihat keseriusan dari Kejati Maluku, untuk menemukan dan mengeksekusi para terpidana ini, sehingga dari awal kami ragu status DPO yang diberikan, sebab jangan-jangan mereka sengaja di-DPO-kan,” jelas Adhy menduga.

Ditambahkannya, rekam jejak penegakan hukum di Maluku yang membuat publik benar-benar ragu dengan Korps Adhyaksa. Disisi lain para DPO ini akan mencoba peruntungan mereka dari balik persembunyian untuk mengajukan PK.Ini yang harus menjadi catatan penting bagi aparat penegak hukum dari Kejaksaan hingga Mahkamah Agung.

“Untuk itu, kami akan memberikan rekomendasi untuk dipertimbangkan. Para DPO ini, jika mengajukan PK harusnya ditolak, sebab kaburnya mereka menandakan mereka telah melakukan perlawanan dan pembangkangan terhadap hukum. Kami tetap mengawal dan ingin melihat sejauhmana kecanggihan alat milik Kejaksaan, seperti yang pernah dibeberkan oleh Wakajati Maluku,” pungkasnya. (S-07)

Tinggalkan Komentar