Berita Utama

KPK Tolak Pembelaan La Masikamba

La Masikamba, Mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ambon. /dok

AMBON, SPEKTRUM – Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi tetap menolak nota pembelaan terdakwa La Masikamba. Mereka tetap meminta majelis hakim menghukumnya 12 tahun penjara.

Mantan Kepala KPP Pratama Ambon itu dinilai bersalah telah menerima suap dari bos CV Angin Timur, Anthoni Liando. Hal ini ditegaskan Jaksa KPK Abdul Basir dalam sidang di Pengadilan Tipikor Ambon, kemarin.

“Kami tetap pada tuntutan awal,” kata Basir menanggapi nota pembelaan yang disampaikan penasehat hukum La Masikamba, Thomsia La Abdullah Cs.

Majelis hakim yang dipimpin majelis hakim Pasti Tarigan didampingi Felix Rony Wuisan, Jeny Tulak, Bernard Panjaitan dan Jefry Yefta Sinaga sebagai hakim anggota, menjadwalkan sidang putusan akan disampaikan pekan depan atau tanggal 21 Mei 2019.

Dari pembacaan nota pembelaan itu, PH La Masikamba tampak pasrah terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka hanya  meminta majelis hakim untuk memutuskan kasus dugaan suap pajak dan gratifikasi terhadap kliennya (terdakwa La Masikamba) seadil-adilnya.

”Kami meminta yang sudah kami tuangkan dalam nota pembelaan kepada majelis hakim, intinya agar bisa memutuskan kasus suap pajak dan gratifikasi yang melibatkan kliennya, La Masikamba seadil-adilnya,” kata Thomsia La Abdullah saat membacakan nota pembelaan kliennya.

Alasannya, kata dia, kliennya sudah mengembalikan sebagian uang yang dipinjam dari para wajib pajak. Mereka menyampaikan prestasi yang dicapai La Masikamba selama bertugas, sebagai fakta hukum yang meringankan.

Diantaranya pada 2017 mendapat prestasi yang diraih dari Dirjen Pajak. Pada sidang-sidang sebelumnya, dari fakta persidangan dan data-data JPU di depan majelis hakim, terdakwa La Masikamba tak mengakui menerima sejumlah uang dari wajib pajak.

Dia mengaku, apa yang diterima sebagai pinjaman. Padahal uang ditransfer melalui Muhammad Said.Belum lagi dengan saksi Nurhaya Umar yang adalah selingkuhan terdakwa di Papua Barat (Sorong), mendapat transfer sebesar Rp.2,8 miliar. Ini membuktikan terdakwa punya andil besar dalam kasus korupsi dan gratifikasi serta suap. (S-05)

Tinggalkan Komentar