Berita Utama

Pemblokiran Dana Dibuka Bisiong

Ilustrasi. /net

SAUMLAKI, SPEKTRUM – Kejahatan dalam dugaan korupsi  proyek drainase di Desa Sifnana, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), kian teruangkap. Penetapan tersangka dilakukan setelah, Hendra Wibisono alias Bisiong mencairkan dana proyek tersebut, saat masih diblokir atas permintaan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku.

 

Informasi Spektrum, pemblokiran dana dilakukan, paska warga menolak pembangunan proyek tersebut. Warga menuntut ganti rugi. Proyek akhirnya tertunda dikerjakan. “Karena itu, dananya diblokir oleh pemerintah,” kata sumber Spektrum, kemarin.

 

Kejaksaan Negeri Saumlaki di Kabupaten Tanimbar, mencurigai selain Bisiong, ada oknum pejabat di PU yang ikut membantu kontraktor ini membuka blokir dana. “Karena itu, Sandi Wattimena ditetapkan sebagai tersangka. Dia diduga bersama Bisiong,” kata sumber ini.

 

Paska penetapan tersangka oleh Kejari Saumlaki, Sandi maupun Bisiong coba melobi ke Kejaksaan Tinggi Maluku. “Keduanya punya jaringan di Kejati. Karena itu, Kajari Saumlaki dimarahi. Sempat kan kasusnya diambil alih oleh Kejaksaan Tinggi,” kata sumber ini.

 

Menurut dia, ada upaya untuk melakukan SP3 terhadap kasus ini, karena alasannya tidak cukup bukti. “Padahal jelas bukti kejahatan itu ada. Mana mungkin kejaksaan menetapkan seseorang jadi tersangka tanpa punya bukti. Ini karena dua tersangka ini dekat dengan oknum pejabat di Kejati Maluku saja,” kata sumber itu lagi.

 

Kemarin saat Spektrum sambangi Kantor Kejari Saumlaki, dan ingin mengonfirmasi soal penanganan kasusnya, Kajari tidak berada di tempat. “Pak Kajari tidak berada di tempat. Beliau sedang keluar,” kata Helpes Notanubun, staf Kejari kepada Spektrum.

 

Menurut pegawai tersebut, semua kasus yang telah diekspose atau sudah ditangani pihak Kejari Saumlaki, semuanya penjelasan harus disampaikan hanya melalui Kajari, termasuk kasus drainase di Desa Sifnana ini. “Kasus yang ditangani Kejari Saumlaki, hanya bisa emberi komentar adalah Kajari saja. Karena melalui satu pintu,” jelas Helpes.

 

Spektrum telah menulis kasus dugaan korupsi proyek drainase di Desa Sifnana, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, namun belum ada penjelasan resmi dari Kajari saumlaki, Fenkie Son Lako mengenai kasus yang diusut Kejari setempat.

 

Penyidik telah menetapkan dua orang tersangka di kasus tersebut yakni, kotraktor PT.Tiga Ikan, HS dan SW sebagai pegawai PU Provinsi Maluku. Nilai proyek pembangunan drainase tersebut sebesar Rp.1.030 miliar.

 

Kajari Saumlaki pada Kamis, 25 Juli 2018 mengaku, Hendro dijerat sebagai tersangka, setelah tim penyidik melakukan ekspose bersama dengan Kepala Kejari Saumlaki, Frengkie Son Laku. Selain Besiong, Kejaksaan juga menetapkan Sandi Wattimena pada Dinas PU Maluku sebagai tersangka. Sedangkan dana kegiatan pembangunannya telah dicairkan semuanya.

 

Tersangka Hendro Wibisono dijerat dengan pasal berlapis yaitu, pasal 2 dan 3 UU Tipikor Nomor: 20 Tahun 2001, dengan ancaman hukuman minimal satu tahun dan maksimal 20 tahun.

 

“Walau begitu kami belum menahan tersangka karena ketika kami naikan statusnya menjadi tersangka yang bersangkutan langsung mengembalikan kerugian negara sebesar Rp.1.030 miliar,” kata Laku. (MG-10)

 

Tinggalkan Komentar