Lintas Maluku

Riwayat Keturunan Thomas Matulessy di Hulaliu

Ilustrasi

AMBON, SPEKTRUM – Keluarga Matulessy adalah anak adat Negeri Hulaliu Haturessy Rakanyawa dari Uli Amarima Hatuhaha, di Pulau Haruku, Maluku Tengah. Awalnya, keluarga Matulessy berasal dari seorang leluhur bernama Kapitan Pattimura Matulessy yang hidup pada abad ke-16 di Negeri Hulaliu.

Pattimura Matulessy menikah dengan Huaputy Noya, anak perempuan Kapitan Besar Haturessy Rakanyawa bernama Upu Pentury Noya yang tinggal di Benteng Hatu Marsala Sebagai anak adat dalam tatanan Negeri Hulaliu Haturessy Rakanyawa, maka mata rumah Keluarga Matulessy bernama Loha Samal dan memiliki Tiang Saniri adat nomor 3 di dalam Baileo Asari Lounusa Hulaliu, dari deretan tiang saniri pada Soa Nusahuhu.

Keturunan Keluarga Matulessy yang ada sekarang berasal dari tiga moyang yaitu Moyang Marpaty Matulessy, Moyang Huapaty Matulessy dan Moyang Pattirias Matulessty. Demikian disampaikan Thomas Matulessy  (bukan Pattimura) kepada wartawan, Sabtu, 11/5 di Ambon.

Dengan itu, maka asal Kapitan Pattimura sebenarnya masih diperdebatkan. Saling klaim sebagai kerabat langsung Pattimura belum juga surut. Namun meski demikian, 15 Mei setiap tahun berjalan, selalu menjadi momentum HUT pahlawan dari Maluku itu.

“Dalam sejarah, ada dua saudara dari Anthony Matulessy yang bernama Maria dan Mateos. Keduanya berpindah ke pulau Saparua dan menurunkan keluarga Matulessy di negeri Itawaka, ulath, dan Haria sampai saat ini. Pada awal tahun 1800, ketika Pemerintah mengeluarkan perintah kepada semua raja Patih Negeri jajahan di Maluku, agar rakyatnya harus mendaftarkan Dusun Dati pusaka yang dimiliki kepada Raja Pati di Negeri masing-masing, Anthony Matulessy ditunjuk sebagai kepala Dati mendaftarkan 2 Dusun Dati dan 4 Dusun pusaka. Dan Thomas Matulessy mendaftarkan 4 buah Dusun pusaka dan Marcus Matulessy mendaftarkan 6 buah Dusun pusaka,” tutur Thomas Matulessy yang mengklaim sebagai salah satu keturunan Pattimura.

Semua Dusun keluarga Matulessy lanjutnya,  terdaftar dalam register negeri Hulaliu atas nama Dati  Waenia, Dati Waesaro, pusaka Larurua, pusaka Waihuhu, pusaka Waehokal, yang hingga kini masih dimiliki dan dinikmati oleh keluarga Matulessy.

Ia menuturkan, bahwa Thomas Matulessy lahir di Hulaliu pada tanggal 8 Juni 1783, dan meninggal dunia di atas tiang gantungan di Kota Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, yang pusatnya tepat di Pattimura park. Dimana jabatan dalam perang adalah penghulu dengan gelar kapitan Pattimura.

“Ayahnya bernama corneles Matulessy, Ibunya bernama Petrosina Noya, dan istrinya bernama Maria Bungasina Taihuttu dengan tiga orang anak. Mereka adalah, Huapatty, dengan nama baptis Asaf Matulessy keturunannya masih ada sampai sekarang di Hulaliu. Risamena dengan nama baptis Matheos Matulessy, dan Benjamin Matulessy yang keturunannya masih ada di Hulaliu,” katanya.

Pada tahun 1817 lanjutnya, terjadi perang Pattimura. Dimana Benteng Duurstede sebagai lambang kekuasaan Belanda di Saparua pada tanggal 16 mei 1817 direbut oleh Thomas Matulessy dan kawan-kawan. Sehingga Gubernur Maluku di Ambon waktu itu, mengeluarkan seruan serta beberapa kali berupaya untuk berunding dan berdamai dengan pasukan rakyat, namun ditolak oleh Thomas Matulessy, kapitan Pattimura, sehingga upaya damai itu gagal.

Setelah itu, Laksamana Buskes mengumpulkan raja-raja di Ambon. Dalam pertemuan itu, Raja Hulaliu Abraham Tuanakotta Pati Kota Alicia, mengatakan kalau keluarga Matulessy berasal dari Hulaliu.  Namun setelah peristiwa 16 Mei 1817, mereka sudah pergi ke Negeri Kariu dan berganti marga menjadi Salataya.

“Untuk itu, saat ini kami atas nama keluarga Matulessy menyampaikan terima kasih dan hormat kami kepada semua leluhur orang Hulaliu yang pada saat itu tanggal 4 November 1817, sepakat untuk tutup mulut memegang rahasia demi keselamatan keluarga Matulessy dari ancaman kematian. Dan belakangan diketahui, keluarganya lolos dari pembantaian dan berada di luar negeri Kariuw, yaitu di Bojonegoro Pulau Jawa. Pada tahun 1989 kami keluarga Matulessy, Tuanakotta, Siahaya, dan Noya telah melaksanakan pertemuan dan memohon doa pengampunan serta membuat meja damai bersama keluarga John Salataya almarhum di Ambon,” jelasnya.

Keputusan untuk kembali memaknai nama marga Matulessy pada zaman pemerintahan Belanda tambahnya, sangatlah berat dan beresiko. Pasalnya, keturunan Thomas Matulessy dicap sebagai pemberontak. Sehingga setelah 100 tahun, pemerintah Indonesia masih keliru dan mengakui orang lain yang tidak berhak sebagai ahli waris.

“Kami ahli waris sejati terus menggugat agar saatnya nanti pemerintah harus mengakui kami dan mengembalikan semua hak hak kami yang menjadi milik pusaka ahli waris sejati yang sebenarnya,” ujarnya.

Sehubungan dengan itu, dia mengaku kecewa dengan Tim Sejarah dari Pattimura yang dibentuk oleh Gubernur Maluku zaman Johanes Latuharhary. Mereka hanya datang sesaat ke Saparua dan memberikan masukan yang keliru tentang ahli waris Thomas Matulessy.

Padahal, terkait hal ini telah disampaikan oleh ahli waris sejati dalam seminar nasional sejarah Pattimura tahun 1993 di Ambon. Tim perumus seminar berkesimpulan, bukti sejarah ahli waris keluarga Matulessy yang benar adalah bukti-bukti yang harus dibuat dan ditulis sebelum Indonesia merdeka.

“Yang mana hasil rekomendasi seminar pada tahun 1993 adalah perlu untuk diteliti silsilah keluarga Matulessy yang ada di Haria dan di Hulaliu. Namun belum ditindaklanjuti sampai sekarang. Dan Juli 2016 lalu, telah dilakukan penelitian oleh forum dosen Indonesia Maluku di negeri Hulaliu Haturessy Rakanyawa dan hasil penelitian tersebut telah diseminarkan pada tanggal 14 Agustus 2016 di kampus unpatti Ambon. bahwa rekomendasi hasil seminar sangat mendukung semua bukti dan fakta sejarah yang berasal dari negeri Hulaliu. Mereka menerangkan bahwa Thomas Matulessy kapitan Pattimura berasal dari negeri Hulaliu pulau Haruku,” cetusnya.

Karena itu, dia meminta Gubernur Maluku, Murad Ismail dapat menindaklanjuti semua hasil seminar yang telah ada. Dengan bersedia membentuk tim peneliti tentang sejarah asal usul pahlawan kebanggaan Maluku pahlawan nasional Thomas Matulessy Kapitan Pattimura. (S-01)

 

Tinggalkan Komentar