Metropolis

Seruan Damai Dari Negeri Bekas Konflik untuk Indonesia

AMBON, SPEKTRUM – Provinsi Maluku daerah bekas konflik horizontal. Pada 1999-2004 silam, masyarakat di negeri bertajuk seribu pulau ini terlibat perang saudara. Ribuan orang meninggal dunia, rtusan ribu wrga mengungsi karen kehilangan tempat tinggal.

Kini mereka terus memupuk serta membangun persatuan dan kesatuan guna mempertahankan suatu kehidupan yang rukun dan damai dengan cara saling menghargai satu sama lain dalam bingkai orang basudara.

Harmonisasi kehidupan orang basudara di Maluku patut diteladani oleh seluruh rakyat di wilayah Indonesia, uatamnya para elit bangsa. Hendaknya perseteruan dalam pemilu 2019 karena berbeda pilihan politik, jangan dibiarkan terud berlarut.

Para elit bangsa punya tugas dan tanggung jawab untuk mendamaikan kedua kubu, prioritasnya meredakan perselisihan yang melibatkan pendukung dan simpatisan, Jokowi dan Prabowo agar kermbali hidup damai seperti sedianya.

Seruan damai digulirkan dari negeri bekas konflik, di Gong Perdamaian Dunia, Kota Ambon, Jumat, (28/06/19), disampaikan seluruh masyarakat Maluku di wilayah Pulau Ambon, mulai elite Pemerintah, TNI, Polri, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, elemen Mahasiswa, Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda, mengirim pesan damai untuk Indonesia.

Pesan damai itu bertemakan “Maluku Cinta Damai”. Pernyataan ikrar dan deklarasi cinta damai sekaligus dilakukan penandatangan bersama sebagai bentuk komitmen, dimana Gong Perdamaian Dunia sebagai saksinya.

Empat poin penting dibacakan oleh pimpinan umat beragama yaitu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Maluku, Majelis Ulama Indonesia (MUI), MPH Sinode GPM, Keuskupan Amboina, Walubi Maluku dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Selanjutnya diikuti penandatanganan oleh Gubernur Maluku Murad Ismail, Kapolda Irjen Pol Royke Lumowa, Danlantamal IX Ambon Antongan Simatupang, Kasdam XVI Pattimura, Wakil Ketua MUI Maluku Abidin Wakanno, Bawaslu Maluku Astuti Usman, Ketua MUI Kota Ambon Muhammad Rahanyamtel, Anggota MPH Sinode GPM Pdt Herry Siahaya, Walubi W. Jauwerissa, Wakapolda Brigjen Pol Teguh Sarwono, Ketua Pengadilan Tinggi Ambon, Asisten II Pemkot Robby Silooy, kemudian diikuti seluruh elemen terkait.

“Menyikapi pelbagai dinamika sosial politik yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini, serta keharusan kita semua sebagai anak bangsa untuk merawat perdamaian sejati, persatuan dan kesatuan bangsa serta kebhinekaan Indonesia, maka dengan ini kami terdiri dari berbagai elemen masyarakat Maluku, menyampaikan deklarasi Maluku Cinta Damai,” ungkap para pembaca deklarasi serempak.

Berikut bunyi empat poin Maluku Cinta Damai; pertama; kami masyarakat Maluku adalah masyarakat yang cinta damai untuk itu kami mengajak seluruh komponen bangsa khususnya masyarakat Maluku untuk menghargai perbedaan suku agama ras golongan dan pilihan politik dengan motto walaupun berbeda suku agama golongan warna kulit bahasa tetapi Katong samua basudara.

Kedua, terhadap pelbagai perselisihan yang timbul dalam masyarakat hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang damai arif dan bijaksana melalui dialog musyawarah untuk mufakat atau melalui jalur penegakan hukum dan kami menolak dengan tegas penyelesaian masalah dengan cara-cara kekerasan atau anarkis yang dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa.

Ketiga, kami masyarakat Maluku mengajak seluruh komponen bangsa khususnya masyarakat Maluku untuk memperkuat ketahanan sosial dalam rangka mengantisipasi berbagai bentuk polarisasi politik identitas dan provokasi yang dewasa ini marak bertebaran di media sosial dalam bentuk hoax dan hate speech.

Keempat, kami masyarakat Maluku menolak dengan tegas berbagai bentuk polarisasi masyarakat untuk kepentingan sosial serta mengajak seluruh komponen masyarakat untuk terus merawat dan mengembangkan pertalian sejati hidup orang basudara serta mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana falsafah orang Maluku yaitu potong yang kurasa di daging.

Kesempatan yang sama, Wakil Ketua MUI Maluku, Abdin Wakanno, mengatakan,
Maluku masih menjadi salah satu provinsi yang punya indeks kedamaian terbaik di Indonesia. Sebab itu, apapun latar belakang perbedaan agama, budaya, etnis, dan pilihan politik, tetapi katong samua orang basudara.

“Berbeda, namun kita selalu belajar memahami perbedaan, belajar saling mencintai, belajar saling membanggakan dan belajar saling menghidupi. Semoga damai dari Maluku, terpatri sejati di sanubari kita. Dan damai dari Maluku juga menjadi damai untuk Indonesia,” ujar Dr.Abidin Wakanno. (S-01)

Tinggalkan Komentar