Metropolis

Umasugi Anak Emas Kejati Maluku?

Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku, di Jalan Sultan Hairun Kota Ambon

AMBON, SPEKTRUM – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku seakan menganakemaskan adik Bupati Buru, Sahran Umasugi yang juga anggota DPRD setempat. Ada empat orang menjadi tersangka di kasus proyek pembangunan Water Fron City (WFC) Kabupaten Buru yakni, Sahran Umasugi, Muhammad Duwila, Ridwan Pattipeilouw dan Sri Juriyanty.

Setelah sekian lama tak ada pemeriksaan penyidik, pihak Kejati Maluku langsung mengambil langkah eksekusi terhadap 2 (dua) dari 4 orang tersangka di kasus proyek WFC yang menelan anggara kurang lebih Rp.4,9 miliar.

Setelah melayangkan surat panggilan kepada ke empat orang tersangka dimaksud, hanya dua orang tersangka yang memenuhi panggil penyidik Kejati Maluku pada Senin, 29 April 2019, yakni, Muhamad Ridwan Pattipeilouw didampingi kuasa hukumnya Remon Tasidjawa, dan Sri Jurianty yang didampingi kuasa hukumnya, Fachry Bachmid.

Sedangkan Sahran Umasugi bagai anak emas dari Kejati Maluku. Lalu Muhammad Duwila juga turut tidak hadir memenuhi panggilan penyidik Kejati Maluku.

Menurut Kasi.Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, dua tersangka lain yang tidak datang yaitu, Sahran Umasugi dan Muhammad Duwila tidak memenuhi panggilan, dan nantinya penyidik Kejati Maluku akan memanggil keduanya kembali.

Sahran Umasugi adalah adik Bupati Buru, Ramly Umasugi dan Sahran adalah juga anggota DPRD Kabupaten Buru. Dia bersama Mumamad Duwila tidak hadir memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan.

“Penyidik Kejati Maluku akan kembali melayangkan panggilan terhadap keduanya. Jika nantinya dipanggil dan keduanya tidak juga datang, maka Kejaksaan Tinggi Maluku akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan upaya panggil paksa maupun jemput paksa atas keduanya,” kata Sapulette.

Terhdap kedua tersangka yang memenuhi panggilan penyidik Kejati Maluku tersebut yakni, Muhamad Ridwan Pattipeilouw dan Sri Jurianty sudah dieksekusi ke Rumah Tahanan Nasional (Rutan) Waiheru-Ambon saat itu juga, Senin, 29 April 2019 terlibat kasus proyek WFC Namlea-Buru.

Tersangka kasus dugaan korupsi pada proyek WFC di Namlea Kabupaten Kepulauan Buru ini dieksekusi jaksa penyidik ke Rutan Waiheru. Lantaran diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp.4.9 miliar.

Kedua tersangka saat dibawa ke Rutan Waiheru, ternyata tersangka Muhamad Ridwan Pattipeilouw didampingi kuasa hukumnya Remon Tasidjawa dan tersangka Sri Jurianty didampingi kuasa hukumnya, Fachry Bachmid.

Kedua tersangka awalnya menjalani pemeriksaan di Kejati Maluku. Setelah menjalani pemeriksaan selama beberapa jam, kedua tersangka ini langsung dibawa menuju Rutan. Tersangka Sri Jurianty ditahan di Rutan khusus Anak dan Perempuan, sedangkan Muhamad Ridwan Pattipeilouw ditahan di Rutan Umum Waiheru.

Sapulette kepada wartawan mengaku, ditahannya kedua tersangka kasus WFC di Namlea ini atas beberapa alasan pertimbangan jaksa penyidik, terkait kasus yang ditanganinya.

“Ada yang menjadi pertimbangan-pertimbangan, sampai tersangka tersebut ditahan. Alasannya antara lain, terdakwa akan melarikan diri, terdakwa menghilangkan barang bukti, serta terdakwa dapat mempengaruhi saksi-saksi lainnya. Langkah yang penyidik lakukan adalah ditahan,” jelas Sapulette.

Kasi.Penkum menambahkan, untuk tersangka Sarhan Umasugi dan Muhammad Duwila, penyidik akan memanggil kembali dengan melayangkan surat panggilan kedua, ketiga berikutnya.

“Lagi-lagi, nantinya dipanggil secara tertulis dengan surat keduanya tidak juga datang, maka Kejaksaan Tinggi Maluku akan berkordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan upaya panggil paksa atau jemput paksa terhadap kedua tersangka tersebut,” tandas Sapulette. (TIM)

Tinggalkan Komentar